Rabu, 20 Oktober 2010

Jumat, 19 Juni 2009

Bangsa Kanibal

Setelah hampir setengah abad menapaki kehidupan detik demi detik, kini semakin kufahami lingkunganku. Bila dulu yang aku lihat sangat terbatas, hanya seputar ayah, ibu, kakak, adik, embah, pakde, mbode, pak lik, bu lik... kini aku mampu mengenal lebih jauh lagi. Bila dulu yang kutahu baru sekedar lapar dan makan, berpakaian dan bermain... kini aku mampu melihat hiruk pikuknya perebutan kekuasaan, perebutan pengaruh dan semua perilaku yang menyertainya. Bila dulu saya mengenal istilah nakal, cengkre, licik, ngapusi... kini aku mengenal hasat, hasut, dengki, tipu muslihat, agitasi, provokasi, bahkan pembunuhan. Hukum rimba, dulu hanya dalam dongeng, hanya untuk menggambarkan kehidupan yang tak berperadaban, kini aku semakin jelas memang masih berada di dunia yang masih menerapkan hukum rimba. Kanibalisme, kekuasaan ditentukan oleh kekuatan dan kepiawaian bertipumuslihat. Peraturan memang sudah dibuat, bahkan teramat banyak, namun pada praktiknya aturan tertulis hanya sekedar formalitas belaka. Intinya, siapa kuat pasti jadi pemenangnya. Peradaban tak kunjung beranjak dari dunia rimba. Perilaku masih sangat dipengaruhi mata rantai makanan. Permasalahan bukan hari ini siapa yang harus aku beri makan, tetapi hari ini siapa yang harus aku makan. Ajaran yang membawa ke peradaban lebih tinggi hanya diamalkan dalam benak. Baik dan buruk tanpa dihadapkan pada resiko, namun hanya dihadapkan pada konsekwensi fata morgana. Cukup dengan dosa dan pahala. Alhasil sang guru pun dengan entheng melakukan pelanggaran. KITA MEMANG BELUM BERANJAK DARI KEHIDUPAN PRAPERADABAN.

Senin, 06 April 2009

Selokan Mataram

Selokan Mataram yang membentang dari Sungai Progo hingga sungai Oya, membelah Kabupaten Sleman, melintang dari barat ke timur sehingga juga disebut Kali Malang, merupakan monumen 'Tahta untuk Rakyat' Sri Sultan HB IX. Lebih lanjut, ikuti cerita berikutnya yang pernah saya angkat di SKH Kedaulatan Rakyat 10 tahun lalu.